Tag: penyakit erosi serviks

Sahabat pandawa pernah mendengar penyakit erosi serviks atau erosi mulut rahim? Penyakit ini biasa mengganggu wanita muda. Tapi tak perlu khawatir, karena penyakit ini tak seseram yang kamu bayangkan. Disebut pula dengan ektropion, erosi serviks ini muncul saat sel-sel kelenjar dalam leher rahim tumbuh menjalar ke luar serviks atau mulut rahim.

Banyak yang mengira bila penyakit erosi serviks ini merupakan gejala kanker serviks sebab terlihar seperti adanya peradangan di area mulut rahim. Tapi, perlu diketahui pula bila tak ada hubungan antar erosi serviks dengan gangguan kanker serviks dan sebagainya.

Soal gejalanya juga tidak terlalu terlihat jelas, sehingga sering kali terabaikan hingga kamu pun baru mengeluh. Kalau begitu sebelum terlambat, yuk, kita cari tahu bersama soal penyakit erosi serviks yang sering mengganggu wanita ini. Selengkapnya di bawah ini…

Mengenal penyakit erosi serviks dan hubungannya dengan kanker serviks

Berdasarkan banyak sumber menjelaskan bila penyakit erosi serviks atau erosi mulut rahim ini merupakan kondisi di mana sel-sel kelenjar lunak bagian dalam serviks meluar ke luar serviks dan memicu peradangan.

Sementara, di bagian luar serviks ada sel epitel skuamosa yang cenderung keras. Area luar serviks yang bersentuhan dengan sel lunak dari dalam serviks ini disebut dengan zona transformasi.

Kondisi tersebut dapat dilihat ketika kamu mencoba lakukan skrining atau pap smear dan akan ada area luar serviks yang akan terlihat merah atau meradang.

Nah, sahabat pandawa jangan panik dulu, karena hal ini tak terlalu mengkhawatirkan dan tidak ada  hubungannya dengan kanker serviks.

Komplikasi dan Bahaya

Dilihat dari gejalanya, memang erosi mulut rahim ini jarang memberikan gejala yang spesifik. Dan malah terkadang, banyak wanita tak sadar mengalaminya. Sahabat pandawa akan menyadari bila kamu menjalani pemeriksaan panggul oleh dokter.

Meski cenderung tak berbahaya, gangguan ini tak boleh disepelekan. Pasalnya, bisa jadi gangguan ini merupakan akibat dari kondisi lain seperti infeksi, polip atau fibroid, endometriosis, gangguan IUD (alat kontrasepsi), hingga perkembangan kanker serviks atau rahim.

Artikel Terkait